[Scroll down for English]

Ruang Politik Pertama Bernama Rumah

Sebuah proyek seni oleh Dito Yuwono; bersama Barasub, Laras, RAR Editions, Sewon Screening dan Studio Batu.

Pameran Dito Yuwono
29 September-13 Oktober 2017

Pembukaan
Jumat, 29 September 2017, jam 16.00 WIB

Seri kegiatan oleh kolektif (jadwal secara detil di bawah)
29-30 September Barasub
3-5 Oktober RAR Editions 
6-7 Oktober Laras                                    
10-11 Oktober Sewon Screening
12-13 Oktober Studio Batu

Ruang Politik Pertama Bernama Rumah sebuah proyek seni yang diinisiasi oleh Dito Yuwono (biografi di bawah) yang mengundang lima kolektif yang berbasis di Yogyakarta untuk berkolaborasi; Barasub, Laras, RAR Editions, Sewon Screening, dan Studio Batu. Pameran ini terdiri dari pameran karya baru Dito Yuwono, sebagai eksplorasi atas sejarah diri sekaligus sejarah ruang Cemeti yang kemudian menjadi landasan konteks keseluruhan proyek termasuk rangkaian kegiatan sepanjang dua atau tiga hari presentasi tunggal oleh masing-masing kolektif yang diundang. 

Proyek ini dimulai dari pembacaan atas ruang domestik sebagai ruang pertama atas perjumpaan dengan hal-hal yang politis. Sebuah ruang fisik yang menaungi institusi bernama keluarga. Sebuah bentuk pengalaman atas dunia yang merupakan mikro kosmos atas bagaimana kita bekerja dalam tataran masyarakat. Rumah merupakan tempat pertama seseorang mengalami pembagian peran, hirarki dan struktur kekuasaan, batasan ruang, konflik kepentingan, serta pengelolaan sumber daya. Banyak ruang seni kontemporer di Indonesia yang dimulai dari atau bahkan masih beroperasi di dalam rumah tinggal pribadi, mengaburkan batas antara ruang publik dan ruang privat. Salah satu ruang seni yang menggunakan model ini adalah Cemeti. Cemeti berdiri pada tahun 1988 di rumah kontrakan kedua pendirinya, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Ruang depan rumah mereka difungsikan sebagai ruang seni untuk mendukung seniman, memamerkan karya, dan bertukar ide. Suatu hal yang sangat dibutuhkan di tengah terbatasnya infrastruktur seni rupa. Hingga pada tahun 1991, keduanya memutuskan untuk tinggal di rumah kontrakan lain, terpisah dari galeri.   

Berangkat dari rasa penasarannya atas narasi sejarah spasial dan tumpang tindih antara wilayah publik dan privat, Dito Yuwono melakukan eksplorasi sejarah Cemeti melalui riset arsip, wawancara, dan tur performatif. Pada bulan Agustus lalu, Dito menyelenggarakan Tur Pertama Rumah Pertama, tur atas rumah pertama Cemeti (1988-1999) di Jl.Ngadisuryan (yang berlokasi di area dalam kraton), yang kini disewakan oleh pemiliknya kepada pihak lain. Di sini, Dito membagi penemuannya dengan kolektif-kolektif yang diundang untuk berpartisipasi dalam proyeknya dalam bentuk performative lecture di mana dia menelusuri sejarah naratif dan spasial dari Cemeti, sembari mendalangi sebuah pengalaman fenomenologis bersama atas pengalaman berada di dalam rumah yang penuh kisah tersebut. Tur itu menawarkan sebuah titik mula bagi setiap kolektif untuk mengembangkan proyek masing-masing selama 2 sampai 3 hari di Cemeti, melakukan campur tangan, mempertanyakan, dan menuliskan ulang narasi sejarah melalui beragam praktek antara lain pembuatan buku komik dan gambar, riset musik, desain dan penerbitan, pemutaran film, dan pertunjukan teater.

Untuk pamerannya di Cemeti, karya-karya Dito Yuwono akan dipajang dalam ruang-ruang ‘diantara’ pada bangunan Cemeti. Dalam hal ini ruang yang digunakan termasuk ruang-ruang yang biasanya tidak bisa diakses seperti ruang penyimpanan, begitu juga lokasi yang tidak biasa digunakan untuk pameran seperti taman, lorong, dan ruang stok karya: ruang-ruang domestik dari sebuah institusi. Di waktu yang bersamaan, ruang galeri Cemeti juga akan menjadi tuan rumah bagi lima kolektif  tersebut selama masing-masing 2 sampai 3 hari. Pada saat itu, ruang galeri akan berfungsi sebagai rumah sementara dan studio (Barasub), workshop cetak untuk fanzine bagi RAR Editions, sebuah tempat di mana suara-suara luar ruang dari sekitar Cemeti dibawa masuk ke dalam bagi Laras- kolektif riset musik, sebuah ruang bioskop sementara bagi Sewon Screening dan sebuah ruang latihan serta ruang pentas bagi Studio Batu. Proyek ini akan ditutup dengan sebuah publikasi online, yang akan mencatat proses kerja proyek tersebut, penemuan riset, serta dokumentasi; memperpanjang kehidupan bagi proyek tersebut melampaui durasi pameran dan menciptakan platform yang akan menyiarkan kepada publik hal-hal yang kerap tak terlihat. 

Pameran ini merupakan bagian kedua dari rangkaian program baru Cemeti berjudul Berbagi, yang akan berlangsung hingga bulan Maret 2018 dan terdiri atas berbagai proyek yang bereksperimen dengan bentuk-bentuk kerja kolaboratif yang berbeda. Seri Berbagi ini merupakan draft kedua dari program setahun penuh kami Maintenance Works.

Biografi-biografi
Seniman Dito Yuwono bekerja dalam berbagai cakupan medium fotografi instalasi mix-media, video, dan performans. Dito secara khusus tertarik untuk bekerja dengan komunitas dan mengumpulkan ulang ingatan-ingatan untuk menemukan hubungan antara ingatan-masyarakat-sejarah. Karyanya kerap menjadi bentuk praktek penceritaan menggunakan pendekatan yang personal untuk secara halus menangkap gambaran yang lebih besar atas kondisi sosial-politik. Beberapa proyek tunggalnya antara lain: “The Memories of Unidentified Experience” (KKF, Yogyakarta, 2014), “Recollecting Memories: Tukang Foto Keliling” (Kaliurang, 2013 dan Ruangrupa, Jakarta, 2015), “Geography of Here and There” (NCCA, Darwin, 2016), “Collective (im)Possibilities: The Politics of Too Many Dinner Parties”, (Project Goleb, Amsterdam, 2017). Dito juga merupakan bagian dari kolektif duo-kurator Lir Space dan kolektif seniman Mes56. Dito tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Program kolektif-kolektif

#1 Wahana Kuda Binal oleh Barasub

Jumat 29 September
16.00–00.00 Menata rumah, sudio, dan galeri di ruang galeri

Sabtu 30 September
09.00 Pembukaan pameran Gigi Nyala
15.00-17.00 Diskusi dengan Barasub, Gigi Nyala, Genderuwo Press dan Cemeti

#2 Jalan Memutar oleh RAR Editions

Selasa 3 Oktober & Rabu 4 Oktober
12.00-17.00 Tur pameran dan produksi zine

Kamis 5 Oktober
09.00-20.00 Pameran
19.00Peluncuran zine oleh Barasub, Arum Dayu, Alwan Brilian & Tyassanti, Faida Rachma, Syalendra R & Ceasar Shidoi, Yonaz Kristy, RAR Editions & membongkar studio cetak dengan kopi seduhan Muhammad Bigoth dan musik oleh Babibosok, KLVDN (Bali)

#3 Jaba Jero oleh Laras

Jumat 6 Oktober & Sabtu 7 Oktober
09.00-17.00 Soundscapes, instalasi suara di Cemeti

#4 Layar Ruang Mas(s)a oleh Sewon Screening

Selasa 10 Oktober
15.45 Program Film #1: Ruang dengan: Kamar Mandi oleh Rusli Eddy (1999) | Another Color TV oleh Dyantini Adeline & Yovista Ahtajida (2013) | Di Sekitar Televisi oleh Theo Maulana (2014) | A Very Boring Conversation by Edwin (2006)
18.30 Pemutaran ulang Program Film #1: Ruang

Rabu 11 Oktober
15.45 Program Film #2: Medium dengan: Happy Ending oleh Harry Dagoe (1995) | Violence Against Fruits oleh Tintin Wulia (2000) | Genre Sub Genre oleh Yosep Anggi Noen (2013) | Musim Bepergian oleh Arie Surastio (2016)
18.30 Pemutaran ulang Program Film #2: Medium & Ngobrol

#5 Membayang oleh Studio Batu

Kamis 12 Oktober
09.00-17.00 Pemasangan dan latihan

Jumat 13 Oktober
19.00 Pertunjukan Membayang
20.00 Pertunjukan Membayang

-

Ruang Politik Pertama Bernama Rumah
a project by Dito Yuwono with Barasub, Laras, RAR Editions, Sewon Screening and Studio Batu

Exhibition by Dito Yuwono
29 September-13 October 2017

Opening
Friday 29 September 2017, 16.00 hrs
 
Exhibition by Dito Yuwono
29 September-13 October 2017
 
Events series by collectives (detailed schedule below)
29-30 September Barasub                                
3-5 October RAR Editions                        
6-7 October Laras                                    
10-11 October Sewon Screening                  
12-13 October Studio Batu                            

Ruang Politik Pertama Bernama Rumah [“The First Political Space is Called Home”] is a project initiated by artist Dito Yuwono (biography below) for which he has invited five Yogyakarta based collectives to collaborate, namely Barasub, Laras, RAR Editions, Sewon Screening and Studio Batu. The exhibition consists of new works by Yuwono in which he explores his own as well as Cemeti’s spatial histories, setting the context for the overall project; and a series of two or three-day solo presentations and events by the invited collectives.

The project takes as its starting point a reading of domestic space as the first site of political encounter. A physical space that holds the institution of family, a form of worlding that is a microcosm of the way we organise on societal level. It is the first place a person experiences role divisions, hierachies and power structures, space constraints, conflicts of interest and resource management. Many contemporary art spaces in Indonesia began or are still being run in private dwellings, blurring the lines between public and private space. One of the first spaces to employ this model was Cemeti itself. Cemeti started in 1988 in the home of its founders, Mella Jaarsma and Nindityo Adipurnomo on Jl. Ngadisuryan (located in the are of the kraton, the Sultan’s Palace). Their front room acted as a space to support artists, display work and exchange ideas. This was much needed during the Suharto regime, when there was little to no infrastructure for contemporary visual art. In 1991, Jaarsma and Adipurnomo started renting a seperate private home, using Jl. Ngadisuryan as a gallery space.
 
Departing from a curiosity in spatial historical narratives and the overlapping of public and private domains, Dito Yuwono explored Cemeti’s history by means of archival research, interviews and a performative tour. Last August, Yuwono organised Tur Pertama Rumah Pertama (“The First Tour of the First Home”), a tour of Cemeti’s first house (1988-1999), which is currently for rent. Here, Yuwono shared his findings with the collectives invited to participate in the project by means of a performative lecture in which he traced Cemeti’s narrative and spatial histories, whilst orchestrating the phenomenological experience of being inside this stories-filled home. The tour offered a starting point for each collective to develop their own 2 or 3 day project at Cemeti, intervening, questioning and rewriting historical narratives through a diverse range practices including comic book making and drawing, music research, design and publishing, film screening and theatrical performance.

For the exhibition at Cemeti, Dito Yuwono’s works will be displayed in in-between spaces around Cemeti’s building. This will include usually unaccessible sites such as the storage, as well as locations not usually used for exhibitions such as the garden, hallway and stockroom. The domestic spaces of the institution. At the same time, Cemeti’s gallery space will host each of the five collectives for 2 or 3 days each. During this time, the gallery will serve as temporary home and studio space (Barasub), a fanzine printing workshop (RAR Editions), a place where the outside soundscape of the neighbourhood is brought in (Laras), a temporary cinema (Sewon Screening) and a rehearsal and performance space (Studio Batu). The project will culminate in an online publication, which will record the project’s working process, research findings and documentation; expanding the life of the project beyond the duration of the exhibition and creating a platform to make public what usually remains unseen.

Biography
Artist Dito Yuwono works in various media, from photography to mix-media installation to video and performance. He is interested in working with communities and recollecting memories to find a link between memory-citizen-history. His work often entails storytelling, using a personal approach to subtly grasp the bigger picture of socio-political environments. Recent exhibitions and projects include: “The Memories of Unidentified Experience” (KKF, Yogyakarta, 2014), “Recollecting Memories: Tukang Foto Keliling” (Kaliurang, 2013; Ruangrupa, Jakarta, 2015), “Geography of Here and There” (NCCA Darwin, 2016), “Collective (im)Possibilities: The Politics of Too Many Dinner Parties”, (Project Goleb, Amsterdam, 2017). Dito is the co-founder and co-curator of Lir Space in Yogyakarta and member of Mes56 Artist Collective. Dito works and lives in Yogyakarta.

Events program by collectives

#1 Wahana Kuda Binal by Barasub

Friday 29 September
16.00–00.00 Installation House, Studio, Gallery in Cemeti’s gallery

Sabtu 30 September
09.00 Opening exhibition by artist Gigi Nyala
15.00-17.00 Discussion with Barasub, Gigi Nyala, Genderuwo Press and Cemeti

#2 Jalan Memutar ["Detour"] by RAR Editions

Tuesday 3 October & Wednesday 4 October
12.00-17.00 Exhibition tour and zine production

Thursday 5 October
09.00-20.00 Pameran
19.00 Launch of zines by Barasub, Arum Dayu, Alwan Brilian & Tyassanti, Faida Rachma, Syalendra R & Ceasar Shidoi, Yonaz Kristy, RAR Editions & Dismanteling the printing studio with coffee brew by Muhammad Bigoth and music by Babibosok, KLVDN (Bali)

#3 Jaba Jero by Laras

Friday 6 October & Saturday 7 October
09.00-17.00 Soundscapes, installation at Cemeti

#4 Layar Ruang Mas(s)a by Sewon Screening

Saturday 10 October
15.45 Film Program #1: Ruang with: Kamar Mandi by Rusli Eddy (1999) | Another Color TV by Dyantini Adeline & Yovista Ahtajida (2013) | Di Sekitar Televisi by Theo Maulana (2014) | A Very Boring Conversation by Edwin (2006)
18.30 Rerun Program Film #1: Ruang

Wednesday 11 October
15.45 Film Program #2: Medium with: Happy Ending by Harry Dagoe (1995) | Violence Against Fruits by Tintin Wulia (2000) | Genre Sub Genre by Yosep Anggi Noen (2013) | Musim Bepergian by Arie Surastio (2016)
18.30 Rerun Film Program #2: Medium & Ngobrol

#5 Membayang by Studio Batu

Thursday 12 October
09.00-17.00 Installing and rehearsing

Friday 13 October
19.00 Performance Membayang
20.00 Performance Membayang

http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_17_39_v2.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-19 om 10_58_13.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_34_12.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_17_51.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_34_39.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_19_28_v2.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_19_11.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-09-30 om 11_34_24.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-10-06 om 12_10_35.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-10-06 om 12_11_41.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-10-06 om 12_09_30.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-10-06 om 12_10_00.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-10-06 om 12_10_22.png
http://cemeti.org/files/gimgs/th-27_Schermafbeelding 2017-10-06 om 12_10_13.png